Rencana penurunan harga pertamax ini tidak lepas dari semakin turunnya harga minyak dunia. Pekan lalu, harga minyak dunia dipasar Amerika Serikat jatuh hingga di bawah US$ 40 per barel, ini merupakan harga terendah dalam 6 tahun terakhir.
Tapi, hari ini harga minyak Light Sweet di pasar AS malah naik menjadi US$ 42,56 per barel, sedangkan untuk jenis Brent harganya naik menjadi US$ 47,56 per barel.
Meski harga minyak dunia mengalami penurunan yang cukup signifikan, PT Pertamina masih mengklaim kerugian untuk jenis premium. Bahkan Dirut Pertama mengatakan, saat ini kerugian PT Pertamina meningkat Rp. 12 Triliun sejak Juli lalu sehingga total kerugian yan masih harus ditanggung PT Pertamina menjadi Rp. 14 Triliun.

Menurut Mantan Dirut PT Semen Indonesia ini, seharusnya harga jual Premium adalah Rp. 8.000 per liter pada awal Agustus lalu. Artinya selisih Rp. 700 per liter masih menjadi tanggungan PT Pertamina. Atas dasar inilah harga bahan bakar minyak jenis tetap per 1 september mendatang.
Untuk solar bersubsidi, Pertamina menyatakan harga jual dan harga keekonomiannya sudah surplus. Namun dia enggan menyatakan margin yang diterima perusahaan untuk BBM jenis ini.
Hari ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan harga bahan bakar minyak bersubsidi untuk periode 1 September mendatang tetap. Artinya, meski tren harga minyak dunia turun drastis hingga awal pekan lalu, harga BBM bersubsidi tidak berubah.
"Harga jual eceran BBM secara umum tidak naik," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmadja, sebagaimana dikutip dari situs resmi esdm.go.id, Jumat, 28 Agustus 2015.